EPISTEMOLOGI TASAWUF
EPISTEMOLOGI
TASAWUF
IDENTITAS
Nama :Joan Aji Pambudi
NIM : 72154053
Prodi/Semester : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : SainsdanTeknologi
PerguruanTinggi : UIN Sumatera Utara
DosenPengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : AkhlakTasawuf
TEMA :
Epistemologi
Tasawuf
BUKU
IdentitasBuku : Ja’far, GerbangTasawuf:
DimensiTeoretisdanPraktisAjaran KaumSufi (Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Peranan Hati dalam Tasawuf
Dalam tradisi Islam, hati (qalb) merupakan subsistem
jiwa manusia. Ahmad Mubarok menemukan konsep Al-qur’an tentang fungsi, potensi,
kandungan dan kualitas hati manusia. Disebutkan bahwa dari segi fungsi, menurut
Ahcmad Mubarok, qalb berfungsi
sebagai “alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan suatu
tindakan (Q.S. al-A’raf/7:179),” sehingga qalb
menjadi identik dengan akal. Disebutkan bahwa ada delapan potensi hati, yakni
hati itu bisa berpaling; merasa kecewa dan kesal; secara sengaja memutuskan
untuk melakukan sesuatu; berprsangka; menoloak sesuatu; mengingkari; dapat
diuji; dapat ditundukkan; dapat diperluas dan dipersempit bahkan bisa ditutp
rapat.
Menurut Al-Ghazali, hati dapat meraih ilmu megenai
banyak hal manakala ia memiliki sifat-sifat Rabbaniyah
dan hikmah. Hati akan menjadi suci ketika dihiasi oleh sifat-sifat ilahiah,
cahaya iman (sebagai dampak dari dzikir dan ibadah), dan hikmah, sehingga hati
akan menjadi cermin yang bercahaya cemerlang, dan akhirnya hati akan meraih kasyf yang yang membuatnya dapat
memperoleh kebenaran, bertemu Allah SWT., dan mampu menyingkap Mhakikat agama.
Menurut Al-Ghazali, seorang sufi dapat meraih ilmu
mengenai banyak hal tanpa melalui proses belajar dan usaha, melainkan dengan
ketekunan ibadah dan zuhud terhadap dunia. Menurutnya, hati dapat merail ilmu
yang diraih tanpa usaha dan dalil yang disebut ilham yang muncul dihati yang
suci, meskipun tidak melalui proses belajar.
Dengan demikian, kesucian hati sebagai dampak dari ibadah dan zuhud mampu
mengantarkan manusia meril ilmu dari Allah SWT. Secara langsung yang diebut
ilham.
Sub
2 : Metode Tazkiyah al-Nafs
Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki
kelemahan, meskipun relative sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia
spiritual. Metode irfani merupakan
metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktivitas penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT., dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara
mendekatkan diri kepada sosok yang Maha Mengetahui (al-‘Alim), bukan dengan metode observasi dan eksperimen atau juga
metode rasional.
Mazhab Tasawuf, menurut al-Ghazali, dapat diwujudkan
secara sempurna hanya melalui (‘ilm)
dan amal (‘amal). Karya-karya para
sufi menegaskan manusia terdiri atas badan jiwa (qalb). Baik badan maupun jiwa dapat menjadi sehat dan bahagia
manakala kebutuhan keduanya tidak terpenuhi. Sebab itulah, para sufi
mengajarkan tentang usaha pemenuhan kebutuahan jiwa demi menghindari
kehancuran.
Kesimpulan
Kesimpulan
Mayoritas sufi menilai bahwa akal
manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt. Dan Alquran menjelaskan bahwa
kelemahan akal ditutupi oleh hati yang damai. Jadi hati yang damai mampu datang
dan menghadap kepada Allah Swt.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Setiap
manusia pasti memiliki hati yang mampu meraih ilmu dan menyaksikan dunia
spriritual didalam bidang nya masing-masing yang berhubungan dengan metode
irfani yang mampu dijalankan oleh semua manusia.