Senin, 31 Oktober 2016

EPISTEMOLOGI TASAWUF

EPISTEMOLOGI TASAWUF


EPISTEMOLOGI TASAWUF
IDENTITAS
Nama                           :Joan Aji Pambudi
NIM                            : 72154053
Prodi/Semester            : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas                       : SainsdanTeknologi
PerguruanTinggi          : UIN Sumatera Utara
DosenPengampu         : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah                  : AkhlakTasawuf
TEMA                                    : Epistemologi Tasawuf
BUKU
IdentitasBuku                        : Ja’far, GerbangTasawuf: DimensiTeoretisdanPraktisAjaran KaumSufi  (Medan: Perdana Publishing, 2016)

Sub 1 : Peranan Hati dalam Tasawuf

Dalam tradisi Islam, hati (qalb) merupakan subsistem jiwa manusia. Ahmad Mubarok menemukan konsep Al-qur’an tentang fungsi, potensi, kandungan dan kualitas hati manusia. Disebutkan bahwa dari segi fungsi, menurut Ahcmad Mubarok, qalb berfungsi sebagai “alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai serta memutuskan suatu tindakan (Q.S. al-A’raf/7:179),” sehingga qalb menjadi identik dengan akal. Disebutkan bahwa ada delapan potensi hati, yakni hati itu bisa berpaling; merasa kecewa dan kesal; secara sengaja memutuskan untuk melakukan sesuatu; berprsangka; menoloak sesuatu; mengingkari; dapat diuji; dapat ditundukkan; dapat diperluas dan dipersempit bahkan bisa ditutp rapat.
Menurut Al-Ghazali, hati dapat meraih ilmu megenai banyak hal manakala ia memiliki sifat-sifat Rabbaniyah dan hikmah. Hati akan menjadi suci ketika dihiasi oleh sifat-sifat ilahiah, cahaya iman (sebagai dampak dari dzikir dan ibadah), dan hikmah, sehingga hati akan menjadi cermin yang bercahaya cemerlang, dan akhirnya hati akan meraih kasyf yang yang membuatnya dapat memperoleh kebenaran, bertemu Allah SWT., dan mampu menyingkap Mhakikat agama.
Menurut Al-Ghazali, seorang sufi dapat meraih ilmu mengenai banyak hal tanpa melalui proses belajar dan usaha, melainkan dengan ketekunan ibadah dan zuhud terhadap dunia. Menurutnya, hati dapat merail ilmu yang diraih tanpa usaha dan dalil yang disebut ilham yang muncul dihati yang suci, meskipun tidak melalui proses belajar.
Dengan demikian, kesucian hati sebagai dampak dari ibadah dan zuhud mampu mengantarkan manusia meril ilmu dari Allah SWT. Secara langsung yang diebut ilham.

Sub 2 : Metode Tazkiyah al-Nafs
Kaum sufi meyakini bahwa akal manusia masih memiliki kelemahan, meskipun relative sukses memberikan gambaran rasional terhadap dunia spiritual. Metode irfani merupakan metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktivitas penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT., dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan diri kepada sosok yang Maha Mengetahui (al-‘Alim), bukan dengan metode observasi dan eksperimen atau juga metode rasional.
Mazhab Tasawuf, menurut al-Ghazali, dapat diwujudkan secara sempurna hanya melalui (‘ilm) dan amal (‘amal). Karya-karya para sufi menegaskan manusia terdiri atas badan jiwa (qalb). Baik badan maupun jiwa dapat menjadi sehat dan bahagia manakala kebutuhan keduanya tidak terpenuhi. Sebab itulah, para sufi mengajarkan tentang usaha pemenuhan kebutuahan jiwa demi menghindari kehancuran.
Kesimpulan
Mayoritas sufi menilai bahwa akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt. Dan Alquran menjelaskan bahwa kelemahan akal ditutupi oleh hati yang damai. Jadi hati yang damai mampu datang dan menghadap kepada Allah Swt.
RELEVANSI DENGAN BIDANG :
Setiap manusia pasti memiliki hati yang mampu meraih ilmu dan menyaksikan dunia spriritual didalam bidang nya masing-masing yang berhubungan dengan metode irfani yang mampu dijalankan oleh semua manusia.